Inspirazione of wong cilik
bagi ide dan inspirasi dari seorang wong cilik
Monday, July 25, 2011
A letter from Jesus
I am about to leave for my country, but I don't have much time to "say good bye" to Rome. Some even try to take advantage of my presence, ask me to do something or to help some other thing. Btw, I have a promise to someone. It is an old promise, I have ag...reed since some months ago. I tried to fulfil the promise, but this is the answer I receive.
"........... please don't spoil your last days in rushing to finish something. just spend the days in thanksgiving and letting go slowly in order to embrace the next chapter of your life. thank you again for all your love ........."
There are still friends who do not think only about their needs. Isn't that letter coming from You, Lord? and just using other's hand? Thanks God for this awareness.
Wednesday, July 6, 2011
HIDUP
Seorang sahabat telah menuaikan tugasnya dan kembali ke tanah air. Video ini saya buat untuk kenangan dan ungkapan terima-kasih telah berlayar di kapal yang sama. Sekaligus membawa saya kepada refleksi tentang kehidupan.
Hidup adalah waktu,
berganti mengikuti musim,
dan musim mengikuti waktu.
Panas-gugur-dingin dan semi,
silih berganti.
Hidup adalah air,
yang kadang membentang di laut lepas,
namun kadang harus melewati lorong-lorong sempit,
untuk menjalankan kodratnya - mengairi.
Hidup adalah perayaan,
antara kelahiran - kematian dan kebangkitan.
Hidup adalah datang dan pergi,
suatu perjalanan,
di dalamnya kita bersyukur,
dan berbagi berkat.
Hidup dari Dia,
maka hidupku untuk Dia.
Labels:
hidup
Saturday, April 23, 2011
Malu ....
Hari Jum'at Agung kemarin, saya bergabung dengan ribuan orang merayakan liturgi Passion di Basilika St. Petrus, Vatican. Menurut jadual, acara akan dimulai pk. 17.00 dan pintu masuk dibuka pk. 15.30. Karena rumah kami cukup jauh dan kami harus naik bus umum yang jadualnya tidak terlalu pasti, maka kami meninggalkan rumah pk. 13.30; dan kami tiba di halaman St. Petrus sekitar pk. 14.15. Lumayan, sudah ada barisan umat sekitar 50 meter untuk masuk pintu yang belum dibuka.
Pintu dibuka pk. 15.30, tepat waktu. Biasanya, bagi yang berdiri sejauh 50 meter tidak dibutuhkan waktu lama untuk masuk, karena pintunya banyak. Perkiraan saya, paling lama 15 menit pasti sudah ada di dalam basilika dan pasti dapat tempat paling tidak di tengah basilika. Tetapi perkiraan tinggal perkiraan, kami harus menunggu lama sekali .... dan ketika masuk basilika, gedung hampir penuh. Yah, karena banyak yang menyerobot...., termasuk beberapa teman yang saya cukup kenal. Mereka sempat menawari untuk masuk duluan, tetapi saya pikir itu tidak semestinya saya buat.
Kejadian itupun menjadi refleksi panjang dalam menyambut hari Paska kali ini. Pertama, saya menyadari bahwa ini adalah "gejala alam" yang dapat merasuki setiap insan di dunia ini. Yang kuat dan tidak "malu" akan mendapat apa yang dia inginkan. Saya memberi tanda petik pada kata "malu", karena di sini mengandung makna "tidak malu untuk berbuat hal tak layak dan malu bukan kepada orang lain melainkan kepada NILAI itu sendiri". Saya ingat orang-orang Jepang yang dengan disiplinnya antri makanan saat terjadi malapetaka tsunami. Mereka "malu" untuk teriak-teriak apalagi saling dorong dan saling sikut. Betapa bedanya dengan teman kami yang malah dengan bangganya mengatakan "kami beruntung dapat tempat yang baik dalam basilika" .... Lebih memalukan, mereka adalah orang-orang yang menyebut dirinya "religius" atau "consecrated".
Ada faktor lain yang membuat orang-orang Jepang itu antri dengan rapi, yakni rasa percaya/ keyakinan bahwa mereka akan mendapat makanan itu pada saatnya, mereka akan mendapatkan apa yang mereka harapkan. Rasanya perlu perbedaan antara mereka yang mau masuk basilika untuk berdoa dengan mereka yang datang untuk "menonton" acara liturgi. Kalau datang untuk "menonton", ada kecenderungan untuk melegalkan segala cara, karena duduk di tempat strategis menjadi syarat utama bisa "menonton" dengan baik. Saya menemui banyak orang yang dengan tenang dan dengan khusuknya mengikuti acara liturgi meskipun mereka duduk di tempat yang boleh dibilang tidak bisa melihat bahkan hanya ujung mitra salah satu uskup - apalagi bapak Paus.
Akhirnya saya sampai pada pengertian lebih jelas ayat dalam buku Mazmur yang mengatakan " ....... aku tidak duduk semeja dengan orang berdosa"; Saya tahu beberapa orang hanya ikut-ikutan teman; ikut-ikutan menyerobot dan ikut-ikutan menikmati hasilnya. Kita tidak boleh menyingkirkan teman-teman yang "tidak sejalan dan sependapat", tetapi kalau kita tidak bisa bertahan, lebih baik jangan dekat-dekat, deh. Malam Natal yl. saya menghadiri misa malam di Vatican dengan teman yang saya sebut-sebut di atas. Akhirnya saya memisahkan diri dan memilih antri (sudah sekitar 100 meter di belakang) dan menanggung resiko pulangnya akan kesulitan karena saat itu dijemput mobil dan teman itu yang punya handphone untuk kontak dengan supir. Pengalaman itu membuat saya kapok dan memilih kali ini jalan sendiri.... "tidak duduk semeja" .... bukan menyingkirkan dia sebagai teman, tetapi untuk tidak saling menjadi sandungan.
Akhirnya, selamat Paska 2011!!
Labels:
paska
Wednesday, February 23, 2011
Problem
Satu saudara meminta bantuan saya. Printernya tidak bisa menghasilkan hasil yang diharapkan, padahal semua setting sudah ok. Saya cek semua ok... ya, berarti memang ada problem lain.
Sayapun mulai utak-atik melakukan test dan analisis, dan tentu saja itu makan waktu. Mulailah nampak ketidak-sabaran si pemilik, berakhir pada "kepasrahan" dengan mengatakan, "kalau tidak bisa ya sudah biar saja seperti itu". Sambil tetap konsentrasi pada kerja, saya bilang, "setiap problem pasti punya penyelesaian ....". Dia tertawa kecut.
Saya masih membutuhkan waktu beberapa menit hingga akhirnya saya berhasil menyelesaikan masalah itu.
Demikianlah proses penyelesaian masalah dengan segala tantangannya. Masalahnya seringkali tidak berubah atau berkembang, tetapi dinamika manusianya yang mengubah masalah itu. Ketidak-sabaran bisa membuat masalah menjadi "tak terselesaikan" atau "berakhir dengan penyelesaian yang lain". Orang cenderung jalan pintas, apalagi kalau itu memungkinkan. Misalnya saja, beli baru kalau ada uang.
Sebenarnya penyelesaian suatu problema terdiri dari dua bagian besar, yakni menemukan penyebabnya dan ... barulah mencari penyelesaiannya; karena seringkali yang disebut "problema" bukanlah problema sebenarnya melainkan apa yang disebut symptom - yakni gejala/ akibat problema itu.
Dalam hidup kita ada banyak hal yang kita sebut problema. Pada kenyataannya, kita seringkali sulit mencari penyelesaiannya karena kita sibuk dengan symptom-nya, ataupun dinamika diri dan lingkungan kita. Kitapun terbawa pada jalan yang tidak menyelesaikan masalah tapi justru menimbulkan masalah baru. Hidup itu butuh refleksi.
Sayapun mulai utak-atik melakukan test dan analisis, dan tentu saja itu makan waktu. Mulailah nampak ketidak-sabaran si pemilik, berakhir pada "kepasrahan" dengan mengatakan, "kalau tidak bisa ya sudah biar saja seperti itu". Sambil tetap konsentrasi pada kerja, saya bilang, "setiap problem pasti punya penyelesaian ....". Dia tertawa kecut.
Beberapa saat kemudian saya berhasil menemukan masalahnya .... belum penyelesaiannya, dia yang tidak mengerti langsung komentar senang, ..."wah, kamu berhasil...."; Lagi-lagi saya tersenyum, sambil menjawab, "ya, saya berhasil menemukan masalahnya"...
Demikianlah proses penyelesaian masalah dengan segala tantangannya. Masalahnya seringkali tidak berubah atau berkembang, tetapi dinamika manusianya yang mengubah masalah itu. Ketidak-sabaran bisa membuat masalah menjadi "tak terselesaikan" atau "berakhir dengan penyelesaian yang lain". Orang cenderung jalan pintas, apalagi kalau itu memungkinkan. Misalnya saja, beli baru kalau ada uang.
Sebenarnya penyelesaian suatu problema terdiri dari dua bagian besar, yakni menemukan penyebabnya dan ... barulah mencari penyelesaiannya; karena seringkali yang disebut "problema" bukanlah problema sebenarnya melainkan apa yang disebut symptom - yakni gejala/ akibat problema itu.
Dalam hidup kita ada banyak hal yang kita sebut problema. Pada kenyataannya, kita seringkali sulit mencari penyelesaiannya karena kita sibuk dengan symptom-nya, ataupun dinamika diri dan lingkungan kita. Kitapun terbawa pada jalan yang tidak menyelesaikan masalah tapi justru menimbulkan masalah baru. Hidup itu butuh refleksi.
Labels:
problema
Wednesday, January 26, 2011
“Kebenaran, pewartaan dan keotentikan hidup dalam era digital”
Pontifical Council for Social Communications
45th World Day of Communications
“Kebenaran, pewartaan dan keotentikan hidup dalam era digital”
5 Juni 2011
Saudara-saudari terkasih,
Pada kesempatan Hari ke-45 Dunia Komunikasi Sosial ini, saya ingin mensyerkan beberapa refleksi yang dimotivasi oleh karakteristik fenomena jaman kita: munculnya internet sebagai jejaring untuk komunikasi. Adalah pendapat yang semakin umum bahwa, seperti halnya Revolusi Industri pada masanya membawa perubahan besar dalam masyarakat - dengan modifikasi-modifikasi yang diperkenalkan ke dalam siklus produksi dan kehidupan para pekerja, perubahan radikal yang terjadi dalam komunikasi dewasa ini membawa pada perkembangan budaya dan sosial yang signifikan. Teknologi baru tidak hanya mengubah cara kita berkomunikasi melainkan mengubah komunikasi itu sendiri sehingga dapat dikatakan bahwa kita sedang hidup melalui periode transformasi budaya yang besar. Sarana-sarana menyebarkan informasi dan pengetahuan ini melahirkan cara baru untuk belajar dan berpikir, dengan peluang-peluang yang belum pernah terjadi sebelumnya untuk membangun relasi dan persatuan.
Cakrawala-cakrawala baru yang sebelumnya tidak terbayangkan, sekarang terbuka, membangkitkan kekaguman kita atas karena kemungkinan-kemungkinan yang ditawarkan oleh media baru dan, pada saat yang sama, mendesak perlunya refleksi yang serius atas pentingnya komunikasi dalam era digital ini. Hal ini sangat jelas ketika kita dihadapkan dengan potensi luar biasa dari internet dan kompleksitas kegunaannya. Seperti halnya dengan setiap buah lain dari kecerdasan manusia, teknologi komunikasi baru harus ditempatkan untuk pelayanan demi kebaikan integral bagi individu dan seluruh umat manusia. Jika digunakan dengan bijaksana, mereka dapat memberikan sumbangan bagi pemenuhan kerinduan akan makna, kebenaran dan kesatuan yang tetap merupakan aspirasi yang paling mendalam dari setiap manusia.
Dalam dunia digital, sarana transmisi informasi semakin meningkat dalam jaringan sosial dimana pengetahuan disyerkan dalam konteks pertukaran pribadi. Perbedaan yang jelas antara produsen dan konsumen informasi direlatifkan dan komunikasi tampaknya tidak hanya sebagai pertukaran data, tetapi juga sebagai bentuk syering. Dinamika ini telah memberikan kontribusi terhadap suatu penilaian baru komunikasi itu sendiri, yang dilihat pertama-tama sebagai dialog, pertukaran, solidaritas dan terciptanya relasi positif. Di sisi lain, ini adalah kontras dengan keterbatasan khas komunikasi digital: interaksi satu pihak, kecenderungan untuk mengkomunikasikan hanya beberapa bagian dari diri, resiko membangun citra palsu diri sendiri, yang dapat menjadi bentuk pemuasan diri.
Terutama anak-anak muda sekarang sedang hidup dalam perubahan komunikasi ini, dengan semua kecemasan, tantangan dan kreativitas yang khas bagi mereka yang terbuka dengan antusiasme dan rasa ingin tahu akan pengalaman baru dalam hidup. Keterlibatan mereka semakin besar di forum digital publik, yang diciptakan oleh apa yang disebut jejaring sosial, membantu membangun bentuk-bentuk baru hubungan interpersonal, mempengaruhi kesadaran diri dan karena itu pasti tidak hanya menimbulkan pertanyaan tentang bagaimana bertindak benar, tetapi juga tentang keaslian dari diri seseorang. Memasuki dunia maya bisa menjadi tanda pencarian otentik untuk pertemuan pribadi dengan orang lain, asalkan bahwa ada perhatian untuk menghindari bahaya seperti memasukkan diri dalam semacam keberadaan paralel, atau eksposur yang berlebihan ke dunia maya. Dalam pencarian untuk berbagi, untuk "teman", ada tantangan untuk menjadi otentik dan setia, dan tidak menyerah pada ilusi membangun sebuah profil publik buatan sendiri.
Teknologi baru memungkinkan orang untuk saling bertemu di luar batas-batas ruang dan budaya mereka sendiri, sehingga melahirkan dunia persahabatan potensial yang sama sekali baru. Ini adalah suatu peluang yang besar, tetapi juga membutuhkan perhatian yang lebih besar dan kesadaran akan kemungkinan risikonya. Siapakah "tetangga" saya di dunia baru ini? Apakah ada bahaya bahwa kita menjadi kurang hadir untuk mereka yang kita temui dalam kehidupan sehari-hari kita? Apakah ada risiko menjadi lebih terganggu karena perhatian kita terpecah-pecah dan diserap di dunia "lain" dari dunia di mana kita hidup? Apakah kita punya waktu untuk merefleksikan secara kritis pada pilihan-pilihan kita dan untuk membina hubungan manusia yang benar-benar mendalam dan abadi? Hal ini penting untuk selalu diingat bahwa kontak virtual tidak bisa dan tidak boleh mengambil tempat dari kontak manusia langsung dengan orang-orang di setiap tingkat kehidupan kita.
Dalam era digital juga, setiap orang dihadapkan oleh kebutuhan untuk keaslian dan refleksi. Selain itu, dinamika dalam jejaring sosial menunjukkan bahwa seseorang selalu terlibat dengan apa yang dikomunikasikannya. Ketika orang bertukar informasi, mereka sudah berbagi diri mereka sendiri, pandangan mereka tentang dunia, harapan dan ideal mereka. Hal berikutnya, ada cara Kristen untuk hadir di dunia digital: yakni dalam bentuk komunikasi yang jujur dan terbuka, bertanggung jawab dan menghormati orang lain. Untuk memberitakan Injil melalui media baru berarti bukan hanya untuk menyisipkan secara tegas konten religius ke platform media yang berbeda, tetapi juga menjadi saksi secara konsisten; dalam profil diri digital seseorang dan cara berkomunikasi, pilihan, preferensi dan penilaian yang sepenuhnya konsisten dengan Injil , juga ketika hal itu tidak dibicarakan secara eksplisit. Selanjutnya, juga berlaku di dunia digital bahwa pesan tidak dapat diwartakan tanpa saksi yang konsisten dari pihak yang mewartakannya. Dalam lingkungan baru dan dengan bentuk-bentuk ekspresi baru, kaum Kristiani sekali lagi dipanggil untuk memberikan tanggapan kepada siapa saja yang menanyakan alasan dari harapan yang ada di dalam diri mereka (1 Pet 3:15).
Tugas untuk menjadi saksi Injil di era digital memanggil semua orang untuk secara khusus memperhatikan aspek-aspek pesan ini yang dapat menantang beberapa cara berpikir khas web. Pertama-tama, kita harus menyadari bahwa kebenaran yang ingin kita syerkan tidak mendapatkan nilanya dari "popularitas" atau dari jumlah perhatian yang diterima. Kita harus membuatnya dikenal dalam integritasnya, bukan mencari cara untuk membuatnya diterima atau mungkin dengan “mempermudah”. Hal ini harus menjadi makanan sehari-hari dan bukan daya tarik sekilas. Kebenaran Injil bukanlah sesuatu untuk dikonsumsi atau digunakan secara dangkal, melainkan merupakan hadiah yang membutuhkan respon secara bebas. Bahkan ketika diwartakan di dunia maya web, Injil harus dijelmakan dalam dunia nyata dan terkait dengan wajah-wajah nyata dari saudara-saudari kita, orang-orang dengan siapa kita berbagi kehidupan sehari-hari. Hubungan langsung manusia selalu tetap manjadi dasar transmisi iman!
Kemudian, saya ingin mengundang umat Kristiani untuk bergabung dengan jejaring relasi yang telah dimungkinkan oleh era digital, dengan percaya diri dan dengan kreativitas yang penuh kesadaran dan tanggung jawab. Hal ini tidak hanya untuk memenuhi keinginan untuk hadir di sana, tetapi karena jejaring ini merupakan bagian integral dari kehidupan manusia. Web memberikan kontribusi bagi pengembangan baru dan lebih kompleks terhadap cakrawala intelektual dan spiritual, bentuk-bentuk baru dari kesadaran bersama. Dalam bidang ini kita juga dipanggil untuk mewartakan iman kita bahwa Kristus adalah Tuhan, Juruselamat umat manusia dan sejarah, Dia di mana semua hal mendapatkan kepenuhannya. (lih. Ef 1:10). Pewartaan Injil memerlukan komunikasi yang sekaligus penuh hormat dan sensitif, yang menggerakkan hati dan nurani, yang mencerminkan teladan Yesus yang bangkit ketika ia bergabung dengan muridnya dalam perjalanan ke Emaus (bdk. Luk 24: 13-35). Dengan pendekatanNya, dialogNya dengan mereka, caraNya yang lembut mengangkat apa yang telah ada di lubuk hati mereka, sehingga mereka secara bertahap dibawa kepada pemahaman misteri.
Akhirnya, kebenaran itu adalah Kristus sendiri, yang adalah jawaban penuh dan otentik terhadap kerinduan manusia akan relasi, persatuan dan makna yang tercermin dalam popularitas besar jejaring sosial. Kaum beriman yang menjadi saksi keyakinan mereka yang paling mendalam sangat membantu mencegah web menjadi alat yang mengurangi nilai pribadi manusia, berupaya untuk memanipulasi mereka secara emosional atau memungkinkan mereka yang kuat untuk memonopoli pendapat orang lain. Sebaliknya, orang beriman mendorong semua orang untuk mempertahankan hidupnya pertanyaan-pertanyaan abadi dalam diri manusia, yang bersaksi atas kerinduannya akan transendensi dan bentuk otentik dari kehidupan, yang membuatnya layak untuk hidup. Justru inilah kerinduan spiritual manusia yang secara unik mengilhami pencarian kita akan kebenaran dan persatuan dan yang mendorong kita untuk berkomunikasi dengan integritas dan kejujuran.
Saya mengundang terutama kaum muda untuk memanfaatkan kehadiran mereka di dunia digital. Saya ulangi undangan saya kepada mereka untuk perayaan Hari Orang Muda Sedunia yang akan datang di Madrid, dimana teknologi baru memberikan kontribusi besar terhadap persiapan-persiapannya. Melalui perantaraan pelindung mereka Santo Fransiskus de Sales, saya berdoa agar Tuhan selalu memberikan kepara pekerja komunikasi kemampuan untuk melaksanakan pekerjaan mereka secara cermat dan profesional. Untuk semua, saya berkenan memberikan berkat apostolic saya.
Dari Vatikan, 24 Januari 2011, Pesta Santo Fransiskus de Sales.
Terjemahan ini bukan resmi, saya menterjemahkannya untuk kepentingan pribadi dan teman-teman, berdasarkan teks asli versi Italia dan Inggris.-augustassps.
Teks asli dapat dibaca di link ini.
Labels:
Hari Orang Muda Sedunia
Subscribe to:
Posts (Atom)



